Judul Buku :
BIOLOGI 2
Nama Penulis : Faidah Rachmawati dkk
Tahun Terbit :
2009
Nama Penerbit :
Pusat Perbukuan Departemen pendidikan Nasional
Kota Terbit :
Jakarta
Jumlah total halaman buku : 202
Halaman buku yang diresume : 153-160
Hasil Resume :
SISTEM INDERA
Alat
tubuh dapat menangkap rangsang karena memiliki ujung saraf sensorik tertentu
disebut indra. Penerima rangsang pada indra sangat spesifik terhadap macamnya
rangsang. Penerima rangsang tersebut antara lain:
1.
Eksteroseptor : Penerima rangsang dari luar
2.
Interoseptor : Penerima rangsang dari dalam tubuh
3.
Proprioseptor : Penerima rangsang yang berada dalam
otot
Ada
5 macam alat indera pada tubuh manusia, yaitu indra penglihat, indra pendengar,
indra peraba, dan perasa, indra pencium dan indra pengecap.
A. Indra Penglihatan
Mata mempunyai reseptor untuk menangkap
rangsang cahaya yang disebut fotoreseptor. Oleh karena itu, pada siang hari
pantulan sinar matahari oleh benda-benda di sekeliling kita dapat kita tangkap
dengan jelas. Sebaliknya pada malam hari, benda-benda di sekitar kita tidak
memantulkan cahaya matahari seperti waktu siang hari.Akibatnya kita hanya mampu
melihatbenda-benda itu bila mereka memantulkan cahaya dari sumber cahaya lain,
misalnya lampu.
a.
Aksesori mata
Aksesori mata terdiri atas alis mata, kelopak mata, bulu
mata dan aparatus lacrimalis yang masing-masing memiliki struktur dan
fungsi yang berbeda.
1.
Alis mata, terdiri atas rambut kasar
yang terletak melintang di atas mata. Berfungsi untuk kecantikan dan melindungi
mata dari keringat.
2.
Kelopak mata, terdiri atas dua bagian,
yaitu kelopak atas dan bawah. Karena otot mata mempunyai otot mulus levator palpebrae yang dapat
menarik kelopak sehingga dapat terbuka dan
otot mulus orbikularis okuli yang menyebabkan mata menutup. Kelopak
berfungsi untuk melindungi bola mata dari zat asing yang ada di udara.
3.
Bulu mata, ialah rambut pada ujung
kelopak mata.
4.
Aparatus lacrimalis, merupakan aksesori
mata yang memiliki kelenjar air mata yang berfungsi untuk menghasilkan air
mata.
b. Otot ekstrinsik bola mata
Pada setiap mata terdapat enam otot
lurik yang menghubungkan bola mata dengan tulang di sekitarnya. Otot ini
berfungsi menggerakkan bola mata sehingga mata dapat melirik ke kanan, ke kiri,
atas, dan bawah. Gerakan otot bola mata ekstrinsik ini berada di bawah
kesadaran.
c. Bola mata
Bola mata terdiri atas tiga lapisan dari luar ke dalam, yaitu tunika
fibrosa, tunika vaskulosa, dan tunika nervosa.
Tunika fibrosa terdiri atas sklera yang
berwarna putih, tidak tembus cahaya, dan kornea tembus cahaya (transparan).
Kornea memiliki banyak serabut saraf, tetapi tidak mengandung pembuluh darah.
2.
Tunika vaskulosa (uvea)
Lapisan tengah bola mata yang terdiri
atas khoroid, korpus kiliaris, dan iris.
a.
Khoroid berupa lapisan jaringan tipis mengandung
banyak pembuluh darah, berwarna hitam atau coklat karena mengandung pigmen
sehingga menyebabkan bagian dalam bola mata menjadi gelap.
b.
Korpus kiliaris, terletak di antara
batas depan retina sampai batas sklera kornea.
c.
Iris, merupakan selaput melingkar yang
menggantung di antara lensa dan kornea. Lubang bulat di tengah iris
disebut pupil. Iris mengandung banyak
pembuluh darah dan pigmen. Jumlah pigmen menentukan warna mata.
3.
Retina
Retina merupakan lapisan terdalam dari
bola mata yang peka terhadap rangsangan cahaya. Sedangkan, bagian urat saraf
optik yang tidak peka terhadap sinar dan daerah ini disebut bintik buta. Retina terdiri atas tiga lapis
neuron, yaitu lapisan rod dan cone (sel kerucut). Sel batang diperlukan untuk
penglihatan pada cahaya remang, yaitu melihat bayangan. Cone diperlukan
untuk penglihatan diwaktu terang dan
untuk melihat warna. Lapisan neuron dibagi menjadi dua macam, yaitu lapisan
neuron bipolar dan lapisan neuron ganglion.
d. Fungsi mata
Cahaya yang masuk ke dalam bola mata melalui lubang pupil akan menembus
empat media refraksi, yaitu kornea, humor aquous, lensa, dan viterus. Setelah
mengalami empat kali pembiasan, bayangan akan jatuh di retina. Ada dua cara
yang dapat dilakukan agar bayangan benda
dapat jatuh tepat pada retina, yaitu:
a.
Menambah panjang bola mata.
b.
Mengubah lengkungan lensa. Proses
perubahan dari lengkung lensa disebut akomodasi.
Bayangan benda yang jatuh pada retina akan merangsang Rod atau Cone, kemudian melalui serangkaian reaksi
timbul pada sel ganglion. Kemudian, impuls dijalarkan ke khiasma optikus, tractus optikus, lalu ke thalamus optikus. Di
thalamus terjadi sinaps, kemudian impuls diteruskan ke daerah penglihatan di
lobus oksipitalis otak
B. Indra Pendengaran
a. Telinga luar
Telinga luar adalah bagian terluar dari daun telinga. Rangka daun telinga
terdiri atas tulang rawan elastis. Bagian tengah terdiri atas saluran sepanjang
± 2,5 cm, disebut saluran telinga luar. Saluran ini berambut dan mempunyai
kelenjar sebasea, sejenis lemak yang dapat menghasilkan serumen kotoran
telinga. Bagian terdalam dari telinga luar yang berbatasan dengan telinga
tengah berupa suatu selaput elastis yang tipis, disebut dengan gendang telinga
(membran timpani).
b. Telinga tengah (rongga timpani)
Telinga tengah berupa rongga kecil yang berisi udara yang terletak
di dalam tulang temporal, dan dindingnya dilapisi sel epitel. Didalam rongga
telinga tengah terdapat tiga tulang pendengaran, yaitu tulang martil, landasan
dan sanggurdi (stapes). Ketiga tulang ini saling berhubungan melalui sendi yang
bergerak. Tulang martil melekat pada gendang telinga, landasan di tengah dan
sanggurdi melekat pada lubang yang disebut tingkap oval pada telinga dalam. Di sebelah
depan telinga tengah dihubungkan dengan tenggorokan oleh saluran Eustachius (tuba
eustachius). Tuba eustachius berfungsi menyeimbangkan tekan udara telinga luar dengan
telinga tengah.
c. Telinga dalam (Labirin)
Telinga dalam terdiri atas:
1) Labirin osea, yaitu serangkaian rongga
pada tulang temporal yang dilapisi selaput periosteum berisi cairan perilimfa.
2) Labirin membranasea, mempunyai bentuk
yang sama dengan labirin osea, tetapi terletak di dalamnya.
3) Koklea (Rumah Siput) Bagian depan
labirin terdiri atas koklea saluran yang terdiri atas 2 lingkaran. Koklea
terdiri atas tiga saluran yang sejajar, yaitu saluran vestibulum yang
berhubungan dengan jendela oval, saluran tengah dan saluran timpani yang berhubungan dengan jendela bundar dan saluran (kanal) yang di pisahkan oleh membran.
d. Fisiologi pendengaran
Daun telinga berfungsi seperti corong yang mengumpulkan
gelombang suara, kemudian disalurkan ke saluran telinga luar. Bila gelombang
suara mencapai selaput, maka gendang akan bergetar sesuai dengan frekuensi dan
amplitudo suara. Tulang pendengaran ikut bergetar, tulang sanggurdi akan bergetar
keluar masuk tingkap oval, dengan demikian menggetarkan cairan perilimfa
diskala vertibuli. Getaran cairan ini, akan menggerakkan membran basiler yang
dengan sendirinya akan menggetarkan cairan dalam saluran timpani. Perpindahan
ini menyebabkan melebarnya membran pada jendela bundar. Getaran dengan
frekuensi tertentu akan menggetarkan selaput-selaput basiler, yang akan
menggerakkan sel-sel rambut ke atas dan ke bawah. Ketika rambut-rambut sel
menyentuh membran tektorial, terjadi rangsangan (impuls) yang kemudian dikirim
ke pusat pendengaran. Kehilangan indera pendengaran dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu tuli konduktif, karena
gangguan transmisi suara ke dalam kokhlea dan tuli saraf, bila terjadi kerusakan pada
organon corti, saraf VIII ataupun korteks otak daerah pendengaran. Daerah yang
sensitif terhadap indera penciuman terletak di bagian atas rongga hidung.
Struktur indera penciuman terdiri atas sel penyokong yang berupa sel epithel
dan sel bau yang berupa sel saraf sebagai reseptor.
C. Indra Penciuman
Daerah yang sensitif
terhadap indera penciuman terletak di bagian atas rongga hidung. Struktur
indera penciuman terdiri atas sel penyokong yang berupa sel epithel dan sel bau
yang berupa sel saraf sebagai reseptor.
a.
Fungsi indera penciuman
Zat yang memiliki sifat bau berupa uap atau gas mencapai
reseptor bau
melalui udara inspirasi. Zat ini dapat larut dalam lendir pada selaput
lendir hidung, kemudian terjadi pengikatan zat dengan protein membran pada
dendrit dan timbul impuls yang dijalarkan ke syaraf otak I, traktus
olfaktorius, menuju otak untuk:
1.
Diinterpretasikan di korteks otak pada
daerah bau primer.
2. Dihubungkan dengan pusat lainnya,
misalnya dengan pusat muntah bila mencium bau-bauan yang jijik.
3.
Disimpan di korteks otak sebagai memori
(ingatan).
Diduga setiap zat penimbul rasa bau hanya merangsang satu jenis reseptor
saja. Dengan demikian, otak dapat membedakan berbagai rasa bau.
Anesmia ialah kehilangan rasa bau akibat:
1.
Penyumbatan rongga hidung, misalnya
pilek, terdapat polip atau tumor di rongga hidung.
2.
Sel rambut rusak pada infeksi kronis.
3.
Gangguan pada saraf I, bulbus dan
traktus olfaktorius atau korteks otak.
D. Indra Peraba(kulit)
Kulit merupakan indera peraba manusia, kulit terdiri atas
epidermis dan dermis. Epidermis ialah lapisan luar yang terdiri atas lapisan
sel yang disusun sangat rapat jaringan epitel. Sedangkan, dermis, ialah lapisan
di bawah epidermis yang terdiri atas sel yang longgar yang letaknya agak
berjauhan dari satu sel ke sel lainnya.
a. Fungsi indera kulit
Pada kulit terdapat reseptor yang sensitif terhadap rangsangan raba,
tekanan, panas, dingin, dan nyeri. Reseptor ini dapat berupa ujung saraf yang
bebas, ujung-ujung saraf yang berbenjol, atau ujung saraf yang diselubungi
kapsul jaringan ikat. Umumnya, setiap jenis reseptor hanya mempunyai fungsi
yang khusus, yaitu menerima satu jenis rangsang saja.
b.
Tipe rasa dan jenis reseptor
Pada kulit terdapat berbagai tipe rasa dan jenis reseptor, antara lain:
1.
Rasa nyeri
Reseptor rasa nyeri berupa ujung saraf
yang bebas. Jenis reseptor ini terdapat di seluruh jaringan tubuh baik di badan
maupun alat dalam. Rasa nyeri sangat penting karena akan memperingatkan suatu
ketidakberesan pada bagian tubuh tertentu.
2.
Rasa panas dan dingin, reseptornya
berupa ujung saraf.
3.
Rasa sentuhan. Reseptor rasa sentuhan
ialah korpus Meissner, diskus Merkel dan ujung saraf yang melingkari akar
rambut, semuanya terletak dekat permukaan kulit.
4.
Rasa tekanan, reseptor rasa tekanan,
yaitu korpus Paccini,Rufini dan Krawse. Semuanya terletak agak dalam pada
kulit.
E. Indra Perasa(pengecap)
Permukaan lidah bersifat kasar, karena memiliki tonjolan
yang disebut papila. Menurut bentuknya papila dibedakan menjadi tiga jenis,
yaitu:
a.
Papila filiformis
Papila filiformis berbentuk benang
halus, banyak terdapat pada bagian depan lidah.
b.
Papila fungiformis
Papila fungiformis berbentuk tonjolan
seperti kepala jamur, banyak terdapat pada bagian depan lidah dan bagian sisi
lidah.
c.
Papila sirkum valata
Papila sirkum valata berbentuk bulat,
tersusun seperti huruf V terbalik di belakang lidah. Di dalam satu papila
terdapat banyak reseptor pengecap (tastebud). Setiap tasebud terdiri atas dua
jenis sel, yaitu:
1. Sel penyokong yang berfungsi untuk
menopang.
2. Sel pengecap (sel rambut sebagai
reseptor) yang memiliki tonjolan, seperti rambut yang menonjol keluar dari
reseptor pengecap.
Reseptor untuk rasa pahit, terutama terletak pada pangkal lidah.
Sedangkan, untuk rasa manis dan asin banyak terdapat di ujung lidah, untuk rasa
asam terdapat di sisi lidah bagian dalam. Ditinjau dari zat kimia penimbul
rasa, indera perasa dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
1.
Pahit yang ditimbulkan oleh alkaloid
tumbuhan, seperti kina, zat ini banyak yang bersifat racun.
2.
Asin, ditimbulkan oleh kation Na, K, Ca.
3.
Manis ditimbulkan oleh gugus OH. Gugus
ini terdapat pada gula, keton dan asam amino tertentu.
4.
Asam yang ditimbulkan oleh ion H.
Zat tersebut bila masuk ke dalam mulut
akan terlarut dalam ludah, mengadakan kontak dengan reseptor rasa, merangsang sel
rambut, timbul impuls pada sel rambut yang akan dijalarkan sepanjang saraf otak
VII dan IX bagian sensoris menuju otak. Impuls ini akan di interpretasikan
sebagai rasa pada korteks orak dilobus parientalis daerah kecap primer dan
memulai terjadinya refleks pengeluaran air ludah melalui saraf otak VII dan IX bagian
motoris.





